Pertambangan Dan Pengolahan Emas Ilegal Kian Marak, TNHGS Terkes

LEBAK, HarianDjakarta
Menyikapi pemberitaan yang gencar dibeberapa media online terkait kian maraknya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di area Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kepala Seksi (Kasi) PSTN 1 Lebak TNGHS Siswoyo mengaku, baru tahu karena menurut laporan yang ia terima, intensitasnya justeru relatif menurun. namun Ia berjanji akan segera mengambil langkah langkah kongkrit dalam menyikapi PETI di kawasan TNGHS. Selasa 13 April 2021.

“Terkait Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI), saya baru tahu, karena menurut laporan yang saya terima,intensitasnya justru relatif menurun. Saya berterima kasih atas informasinya,”ujar siswoyo. Senin 12 April 2021.

Ketika ditanya langkah kongkrit apa saja yang akan segera ambil? Siswoyo menjelaskan bahwa hal ini akan ditindaklanjuti secepatnya. Ia menjelaskan, dalam penyelesaiannya harus secara komprehensif dan melibatkan unsur – unsur didalamnya secara menyeluruh,dengan pola penyelesaiannya, antara lain, Patroli rutin, Updating, Pencerahan, Pemasangan baliho, dan koordinasi dengan para pihak terkait.

Ditempat terpisah, ketika dimintai komentarnya dalam menyikapi maraknya PETI dikawasan TNGHS, ketua Forum LSM Lebak, Yatna Ruyatna,mengatakan, biasanya kalau sudah ramai baru ada tindakan, seperti yang sudah – sudah saja masyarakat kecil yang jadi korban sementara cukongnya dibiarkan bebas.

“Harusnya ada tindakan kongkrit dari pihak TNHGS jangan hanya menyasar pada kelompok penambangnya saja (Gurandil) dalam melakukan tindakan, yang lebih penting dan adalah pemodal besarnya yang jadi cukong,” ujar Yayat.

Lebih jauh Yayat menjelaskan, kegiatan ini sudah lama berlangsung dan selalu jadi topik menarik untuk dipublikasikan oleh media – media lokal ataupun Nasional, harusnya sedini mungkin TNHGS melakukan tindakan jangan hanya duduk dibelakang meja menunggu laporan.

“Ini kan sebenarnya sudah mengakar dimasyarakat dan menjadi mata pencaharian bagi keberlangsungan hidup mereka, mindsetnya harus dirubah agar tidak ada lagi yang jadi korban masyarakat setempat,” pungkas Yayat.(tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *