Tindak Cepat Ahmad Bakri Syahputra,SE dan Ibu Nursyamsiah menanggapi persoalan masyarakat …

DELI SERDANG, HARIANDJAKARTA.COM

Rasa kemanusiaan yang terdapat pada hidup manusia pasti timbul jika melihat orang dalam kesulitan.

Itulah yang dirasa sosok aktivis serta tokoh muda Ahmad Bakri Syahputra, SE dan ibu Nursyamsiah, yang tidak asing lagi di lingkungan masyarakat Deli Serdang.

Mereka bertindak cepat menanggapi persoalan masyarakat yang sedang sakit namun terkendala biaya sangat besar.

Mendapat informasi, mereka segera mendatangi keluarga korban Sabtu (22/05/2021), untuk membantu permasalahan tersebut.

Ahmad Bakri Syahputra, SE, adalah Ketua dari organisasi Gerakan Advokat dan Aktivis Kota Medan dan Ketua Generasi Negarawan Indonesia sekaligus berkecimpung di perpolitikan.

Ia berpendapat, jika kita mempunyai umur serta relasi untuk membantu sesama, maka gunakanlah waktu tersebut untuk yang memperlukan bantuan.

“Penyakit yang di derita si Korban sudah sangat parah, maka dari sini kami mencoba memberikan bantuan agar keluarga bisa diringankan biaya rumah sakit di RS. Mitra Sejati. Adapun tindakan yang kami lakukan, ialah mendatangi stake holder dilingkungan si Korban, memberitahukan bahwa ada warganya yang sakit tapi terkendala biaya yang sangat besar,” ucap Ahmad Bakri Syahputra, SE.

Ibu Nursyamsiah mengatakan bahwa masyarakat harus bisa saling bahu membahu dalam hal menolong sesama, karena hidup membutuhkan orang lain.

“Permasalahan yang di derita keluarga ini sangat tidaklah mudah. Yaitu kartu Jamsostek mereka sudah mati, maka biaya otomatis bakal menjadi tanggungan keluarga. Kami disini membantu menjembatani keluarga ke Instansi Pemerintah, agar segera cepat tanggap lah menolong korban, Karena kesehatan sangat berharga,” tambah Nursyamsiah.

“Marilah kita bersama-sama menolong keluarga ini karena kita tau sendiri ayah korban pendapatan sangat pas-pasan. Ayolah pihak dinas dan instansi pemerintah terkait bukalah mata hati kita untuk membantu sesama, karena jika bukan dari kita siapa lagi. Kalau bukan dari sekarang kapan lagi,” tutup Ahmad Bakri Syahputra, S.E.

Ahmad Bakri berharap Pemerintah Daerah Sumut harus cepat tanggap dalam hal Sosial dan Kemanusiaan.

Adapun kronologi dan cerita korban:

Pukul setengah tiga pagi, saat sebagian besar orang sedang terlelap nyenyak-nyenyaknya, Pak Sunarwan dan Bu Siti sudah sibuk di dapur.

Berdua beradu dengan kuali serta bumbu-bumbu yang harus segera selesai diolah jadi lontong dan nasi lemak sebelum matahari terbit.

Semata-mata demi mengais rupiah untuk selamatkan anak mereka, Abdul Risky (15 th), dari ancaman kematian, akibat usus yang tersumbat hingga nyaris busuk dan pecah.

Waktu itu langit masih gelap, ayam belum juga berkokok, dan dingin kabut malam masih begitu menusuk tulang.

Orang-orang masih terlelap dalam mimpi, tetapi Abdul yang duduk di bangku kelas 2 SMP justru sudah terjaga untuk berjuang wujudkan mimpi jadi seorang pilot.

Ia lipat selimut, turun dari kasur dan bergegas ke dapur bantu Ayah-Ibunya siapkan dagangan.

Nahas, masakan belum juga matang, Abdul tiba-tiba merasa seperti ada tangan besi yang menonjok perutnya dari dalam. Sontak ia menjerit kesakitan dan jatuh terduduk di depan kompor.

Walau sudah minum obat generik dari apotek, perasaan seperti ditonjok-tonjok tangan besi dari dalam perut rupanya berlanjut, dan masih Abdul rasakan hingga dua minggu kemudian.

Puncaknya, Abdul tak henti muntah-muntah. Apa pun yang masuk mulut langsung keluar lagi, bahkan perut Abdul malah membesar.

Saat dipegang, perut Abdul pun terasa keras seperti ada tekanan dari dalam. Benar-benar bak balon yang terus menerus ditiup hingga nyaris meledak.

Merasa ada yang sudah tak normal dari kondisi Abdul, Pak Sunarwan dan Bu Siti bergegas cari pertolongan.

Miris, mereka berkali-kali ditolak bidan dan RS terdekat karena keterbatasan fasilitas.

Abdul akhirnya harus dibawa ke RS yang lebih jauh dari tempat tinggal dengan bantuan mobil tetangga.

Di IGD, hasil pemeriksaan dan foto rontgen buat dunia Pak Sunarwan dan Bu Siti seakan runtuh seketika.

Ternyata selama berminggu-minggu menahan sakit perut, Abdul tengah diintai ancaman kematian.

Usus Abdul terlipat-lipat dan lengket saling menempel sehingga terjadi penyumbatan.

Segala macam makanan serta cairan yang tak bisa dicerna menumpuk dan membusuk, bercampur dengan gas sekaligus asam lambung sampai menekan usus.

Abdul divonis mengidap penyakit bernama Ileus Obstruktif. Kata dokter, jalan satu-satunya untuk selamatkan Abdul adalah operasi dan perawatan intensif yang dibarengi dengan terapi obat-obatan.

Tanpa itu semua, selain bisa ikut membusuk, usus Abdul bisa berujung pecah mengeluarkan darah, nanah, serta bakteri, yang akhirnya bisa menimbulkan infeksi dan komplikasi serius, yang mengancam nyawa!

Jika tak ingin kehilangan anak, setidaknya uang sebesar Rp. 100 juta mesti segera Pak Sunarwan dan Bu Siti siapkan.

Sungguh pilu, sebab jumlahnya bagai Bumi dan Langit. Dengan pendapatan mereka sebagai pedagang sarapan pagi di pinggir jalan. Mungkinkah Pak Sunarwan dan Bu Siti selamatkan Abdul, kalau jerih payah keduanya memasak, dari sebelum subuh dan layani pembeli hingga matahari menjelang terik hanya hasilkan Rp. 60 ribuan/hari..??

“Dulu pas umurnya baru sebulan, Abdul juga pernah sakit persis begini. Waktu itu saya sama istri harus berjuang mati-matian biar bisa kumpulin biaya operasi dan nyelamatin Abdul. Ya Allah, kenapa sekarang kejadian lagi..? Padahal warung lagi sepi gara-gara pandemi. Jangankan pulang bawa uang, saya malah sering bawa pulang makanan basi karena dagangan nggak ada yang laku…!?,” lirih Pak Sunarwan, pria pedagang lontong dan nasi lemak Kaki Lima di Deli Serdang, Sumatera Utara.

(Rilis/GBS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *