KONTROVERSIAL HARI RAYA VALENTINE (Pdt. Henry Dunan Sirait, SH)

Hariandjakarta.com

Barangkali perlu disadari, bahwa VALENTINE DAY bukanlah hari berpacaran, bukan pula hari bagi anak-anak muda dan remaja. Melainkan VALENTINE DAY adalah satu hari yang dirayakan (oleh sekalangan orang) sebagai hari peringatan Cinta Kasih. Hari di mana diharapkan oleh kalangan tersebut, ada satu penekanan tentang cinta dan kasih. Ada macam-macam tindakan kongkrit semisal memberikan dan menerima sesuatu, ada bunga (say with the flower), ada cokelat, ada gift dan pemberian-pemberian lainnya.

Ini tidaklah berarti bahwa satu hari itu sajalah hari cinta kasih dan hari lainnya penuh kebencian dan dendam kesumat, seperti yang seringkali dilontarkan orang-orang yang skeptis dengan nyinyiran-nyinyirannya yang tajam dan menyakiti.

Perlu kita evaluasi diri dan kita uji hati kita, dalam tindakan-tindakan kita apakah betul bahwa kita juga sudah “full kualitas” di dalam kasih dalam perbuatan-perbuatan, terlepas dari hari Valentine?

Karena ada orang-orang yang berkata, bahwa valentine itu harinya anak muda dan hura-hura. Anak-anak muda melakukan tindakan-tindakan amoral dan berbuat dosa.

Pertanyaannya adalah: bisakah dibuktikan, bahwa itu mutlak benar? Apakah hanya dalam hari Valentine saja orang-orang bisa berbuat dosa dan berlaku amoral? Bukankah pada masa-masa persiapan dan perayaan-perayaan hari-hari besar agamawi pun, banyak juga para remaja dan pemuda yang keluar rumah dan tak terkontrol atau belum tentu bisa dikontrol dengan baik dan benar. Sesuci apapun hari besar satu agama, kalau ada orang berniat mau berbuat dosa tetap bisa.. dan sebaliknya, tanpa dan bukan di saat hari besar agamawi pun kalau orang mau hidup dalam kebenaran dan dalam kesucian, bisa.

Kita tak sadar, inilah penyakit kita yang pertama, mampu mengkritisi yang lain tetapi gagal mengkritisi diri sendiri. Itulah kelemahan kita. Padahal kita tahu bahwa hari valentine bukanlah hari berhala, bukan pula harinya anak muda dan remaja, melainkan hari bagi kita semuanya, yang mengerti cinta kasih. Bukan juga hari penetapan bahwa di sana bebas berpacaran, bukan hari di mana semua yang hadir dan mengikutinya tiba-tiba jadi penuh hawa nafsu dan syahwat, sehingga berlaku tak senonoh seorang dengan yang lainnya, dan berpesta seks-ria. Bukan!

Dua puluh dua tahun sudah aku bersama-sama generasi mudaku dari tahun ke tahun berkumpul bersama-sama dalam hari raya Valentine dan menikmati hadiratNya, membawa jiwa-jiwa yang muda, yang terhilang, yang hampa kasih sayang (loveless), yang tertolak dari keluarga (unwanted), yang dibully dalam komunitasnya dan yang tak berpenghapan (hopless)…. Berkumpul dan berinteraksi, ada praise and worship, ada share firman Tuhan, ada game and party, ada diskusi….. Sukacita dan kegembiraan meliputi generasiku setiap kali hal itu terjadi.

Ada yang berkata, seperti seorang Walikota di salah satu daerah Jawa Barat, bahwa hari valentine bukanlah budaya Indonesia. Apakah yang dimaksud dengan perkataan: bukanlah budaya Indonesia? Apakah betul bahwa kasih sayang bukan budaya Indonesia? Betulkah bahwa yang ada di Indonesia ini, yang sekarang ini sedang kita anut dan jalankan adalah benar-benar budaya yang murni dan asli berasal dari Indonesia? Jujurkah kita dalam berkata-kata demikian, dan mengabaikan apa yang terpampang di mata kita bahwa betapa besarnya pengaruh budaya luar dalam ke-Idonesiaan kita? Bagaimana besarnya pengaruh budaya Arab, budaya India, Eropa dan negara-negara serta peradaban lainnya, baik yang memengaruhi musik, arsitektur, sastra, kuliner, seni lainnya dan bahkan perekonomian serta teknologi……

Inilah penyakit kita yang kedua, gampang menggampangkan setiap persoalan. Mudah menghakimi bahkan sebelum terdakwa dinyatakan bersalah……

Tidak sedikit yang berkata: “Masakan Mengasihi hanya di hari Valentine? Hari lain juga bisa…”

Emang bisa…! Harus..!

Hal itu sama dengan mengatakan: “Selamat hari Ibu”, “Selamat hari Ayah”, atau “Selamat hari Natal,” atau hari-hari lainnya…. Padahal pemahamannya adalah, bahwa jika ada satu hari dalam penekanan perayaannya, tidak berarti bahwa hari lainnya menjadi mati makna dan kehilangan kuasa dari tindakannya. Tetap saja setiap hari adalah hari di mana kita semua harus menaruh hormat, takzim pada ayah dan Ibu kita. Bukan hanya pada satu hari itu.

Tetapi sudahlah sangat lazim, sesuai dengan yang Tuhan Yesus ajarkan, dalam perumpamaan talenta, bahwa barang siapa sedikit bekerja akan lebih banyak berbicara. Siapa yang RAJIN melakukan (bekerja), justru MALAS (sedikit) sekali berkata-kata, tetapi siapa yang MALAS bekerja (berbuat) akan sangat (RAJIN) mengkritisi. Siapa yang banyak talenta, lebih banyak menjalankannya, sementara si pemilik satu talenta, hanya mengubur talentanya/ kemampuannya dan langsung menyerang Tuannya dengan semprotan kata-kata yang tak hormat, menyakiti dan menghina…. Kritikan demi kritikan ia lontarkan tanpa pengetahuan dan tanpa perasaan. Luarbiasa bodohnya. Alangkah sempitnya pemikirannya, tetapi dalam pandangannya sendiri, dialah orang terpintar….

Hari Valentine bukanlah satu-satunya hari di mana kita bisa melakukan cinta kasih. Ada ribuan hari di dalam hidup kita yang di mana mestinya kita bisa produktif dan mengasihi dan menyayangi. Jangan sampai alpa dan sibuk mengkritisi ini dan itu untuk satu hari, sementara kasih sayang dan cinta lupa dan terlewatkan dalam pengamalan.

Bukti kuat dari upaya sanggahan bahwa cinta kasih bukan saja pada satu hari melainkan pada semua hari adalah ini:

  1. Check lah hati dan hidup kita hari ini, adakah musuh kita meskipun hanya satu orang dengan alasan apapun? Jika ada, kita gagal dalam menerapkan kasih dalam setiap hari.
  2. Masih adakah amarah dan kesumat hingga matahari terbenam? Bukankah sebelum matahari terbenam, atau sebelum ia beringsut di ufuk barat, mestinya amarahmu sudah lebih dulu surut. Jika tidak, kritikan kita tentang hari raya valentine adalah percuma.

Valentine semestinya menyentak kita semuanya, bahwa tidak ada cinta yang lebih besar dari pada cinta seorang yang mau memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Cinta itulah yang seyogianya menjadi spirit di dalam setiap perayaan atau peribadatan hari raya valentine.

Yesus adalah teladan satu-satunya untuk itu tidak ada yang lain….. Marilah kita teladani Dia.

Happy Valentine Day, Tuhan memberkati kita semuanya….